Senin, 07 April 2014

"BIAYA SIRAMAN FAJAR"

Dalam hatiku, saya marah semalam. Bertemu dengan 1 orang sahabat yang telah kunkenal kepribadiannya sejak 10 tahun lalu.

Teman yang saya kenal ini adalah calon anggota legislatif di daerah pemilihan Bintan. Dengan raut wajah yang sulit saya baca, entah senyum atau sedang nelangsa, ia mengatakan " "Saya sudah habis dekat 700 juta". Dia pun mencoba mengungkapkan maksud ingin meminjam dana kepada saya karena sangat dibutuhkan untuk "biaya siraman fajar", demikian ia menjelaskan. "Masih kurang sekitar 100 juta lagi, paling lambar Selasa sudah harus dibagikan" ujar teman saya itu.

Kamis, 03 April 2014

TUHAN MANA YANG MEMBERKATI NEGERI CINA?

                                 
Kesan pertama yang kuperoleh begitu sampai di Bandara Beijing, 26 Juni 2013, adalah bahwa negeri China sebuah Negara yang besar dan maju. Pantas mereka angkuh dan sedikit berbangga di hadapan dunia Internasional. Itu sangat wajar fikirku. Lalu esok harinya kami berangkat menuju Provinsi Shandong naik mobil. Sepanjang jalan kenangan, semuanya rapi, indah dan sangat luar biasa. Jalan tolnya sangat rapi, teratur, bersih dan panjang sekali. Sepanjang perjalanan sekitar 4,5 jam, kami tidak pernah bertemu dengan kemacetan. Ah… Indonesia, bangsaku tertinggal sangat jauh.

PEMERINTAH DOYAN PAMER


Kelihatannya pemerintah kita lebih suka bersolek. Mereka suka pamer ketimbang bekerja keras membenahi hal-hal yang lebih bersentuhan langsung dengan masyarakat. Yang lebih menonjol soal pamer memamer ini tersaji menggemaskan tiap hari di media publik. 

Menerima penghargaan sekecil apapun pamer. 

Melakukan perkara - perkara kecil, pun juga dipamerkan.

PEMIMPIN SALAH KAPRAH


Ada banyak pemimpin yang mengalami penyakit tujuan. Mereka beranggapan bahwa mereka telah "sampai" pada tujuan setelah meraih suatu posisi atau kekuasaan. Saat mereka menduduki posisi/kekuasaan, lalu berhenti atau menurun konsistensi dan semangatnya berjuang untuk mewujudkan impiannya sebelum memimpin/berkuasa. 

KEJAMNYA SEORANG AYAH

 DISKRIMINASI DALAM KELUARGA

Sebuah keluarga terdiri dari Ayah, Ibu dan 7 orang anak, memiliki hanya seekor sapi betina. Tiap hari sang Ayah memerah susu sapi mereka dan hanya memberikan susunya kepada anaknya yang no 1 dan 7 dan dirinya sendiri. Sedangkan istri dan anaknya yang lain ( yang merupakan jumlah yang lebih besar dari mereka sekeluarga ) tidak mendapatkan apa-apa, paling banter hanya mendapatkan sisa kerak susu. 

Akhirnya sang Ayah dan anak no 1 dan no 7 tumbuh sehat dan cerdas, serta mampu mengembangkan diri. Sedangkan si istri dan anaknya yang lain tetap kurus, kurang giji, merasa disingkirkan dan rendah diri.

Gambaran di atas kiranya cukup menjelaskan bagaimana Pemerintah Kota Tanjungpinang dan Pemkab Bintan mengelola SDA ( khususnya bauksit ) di kawasan ini. Entah denan alasan apa, sebagian orang tertentu berhak mendapatkan, mengelola dan menikmati hasilnya. Sementara sebagian besar sisanya sama sekali tidak diberi dan didorong untuk mendapatkan kesempatan yang sama minum susu.

Kita merindukan "AYAH" yang bijak yang memiliki nurani untuk membagikan susu kepada semua orang.

ANDA INGIN BEROBAH?


Ada beberapa hal yang tidak bisa kita pilih dalam hidup, misalnya tempat lahir, orang tua yang melahirkan, jenis kelamin, ras dll. Yang berbahaya adalah cara berfikir bahwa sikap /sifat/karakter adalah sesuatu yang tidak dapat dirubah. Sehingga sering kita mendengar kata-kata seperti : Ya..apa boleh buat beginilah sifatnya, tak mungkin dirubah lagi. Begitulah karakterku dari sononya, bagaimana bisa kurobah?

Anggapan bahwa sifat, sikap dan karakter adalah sesuatu yang demikaian adanya dan tidak dapat dirobah adalah pandangan keliru. Siapapun bisa merobah sifat, sikap dan karakternya. Karena ketiga hal itu berada pada wilaya kita sendiri. Bagaimana sifat, sikap dan karakter seseorang bukan hal yang memang begitu dari sononya ( given ), tatapi itu soal pilihan.

Jika kita perhatikan, dalam kehidupan sehari-hari, pada saat berdebat kelas ringan sampai kelas berat, masih banyak istri kepada suaminya mengatakan : " Beginilah sifat dan karakterku, apa boleh buat, ini kan bawaan lahir. Apa boleh buat, sudah takdirmu memperistrikan aku".

Haa.....kepala langsung mumet...

PERJUANGAN MASUK SURGA


Ketika pemerintah negara tetangga kita berjuang dengan berbagai cara dan upaya untuk meingkatkan kesejahteraan warganya melalui perbaikan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, sistem perekonomian yang lebih fair, pemerintah di negeri ini mulai dari tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Pusat sepertinya sibuk memperjuangkan rakyat untuk masuk surga. Alaih-alih berfokus memperbaiki infrastruktur, pendidikan, kesehatan, sistem perekonomian yang lebih fair, mereka malah sibuk membuat perda tentang beribadah, menggunakan kerudung, dan lain sebagainya.