Rabu, 02 April 2014

Demokrasi Parsial





DOKTER, GURU DAN PNS DALAM DEMONSTRASI IMAJINER

Situasinya benar-benar memprihatinkan.  Alkisah ada seorang dokter, sebut saja namanya dr. Hayu Rahayu, divonis bersalah oleh pengadilan setempat. Sebagai wujud solidaritas  kepada rekan seprofesi, lalu dokter berduyun-duyun mogok kerja meninggalkan pasien di rumah Rumah Sakit. Mereka sepakat melakukan aksi demonstrasi. Hari itu, semua dokter turun ke jalan, tanpa terkecuali. Karena tidak ada dokter bedah kandungan yang berjaga di rumah sakit, 2 orang pasien wanita hamil  tua merintih-rintih kesakitan tak dapat segera dioperasi. Akhirnya pingsan karena pendarahan hebat. Dua wanita itu dan anak dalam kandungannya meninggal hari itu juga, dalam selang waktu yang berdekatan.  Empat nyawa melayang dalam sehari, pada jam yang sama di hari yang sama. Keluarga dari kedua  wanita hamil yang malang itu, menjerit-jerit histeris di rumah sakit, satu diantara keluarga pasien kelihatan emosional dan kecewa berat. Mereka sangat menyesalkan mengapa dokter lebih mementingkan demonstrasi ketimbang menyelamatkan nyawa manusia.
Salah satu dari keluarga wanita hamil yang meinggal itu, menghantam meja perawat jaga, tanganya terluka dan berdarah-darah terkena pecahan kaca. Namun karena masih dalam kondisi emosi tinggi, ia berlari dengan tangan berdarah-darah ke  arah depan ruangan dokter jaga yang kosong. Terdengar suaranya menggelegar “Mana dokternya..mana dokternya? Nyawa instri dan anak saya tidak akan hilang jika dokter memiliki hati nurani” ujar pria itu mulai menangis meraung-raung. Namun tak ada yang berani menjawab, suasana hening, mencekam, semua staf di Rumah Sakit itu menunduk, tak ada yang berani mengeluarkan sepatah katapun. 
Sementara, ratusan Dokter di kota itu sudah bulat tekad melalui rapat pada malam sebelumnya. Mereka sepakat memutuskan menggelar demonstrasi dalam rangka membela korpsnya turun ke jalan serentak. Tempat pelaksanaan demo sekitar satu kilometer dari Rumah Sakit Umum Daerah dimana kedua wanita yang meninggal tadi sempat dirawat.
Di tempat demonstrasi para Dokter itu digelar, tepat di waktu yang sama, ada juga guru yang sedang melakukan aksi demonstrasi. Pasalnya lain lagi. Ada seorang guru SD namanya Dewi Rahayu, S.Pd divonis bersalah oleh pengadilan negeri setempat karena menggampar anak didik, nama anak didiknya Selvi Rahayu. Kasus ini sempat mencuat di koran lokal kota dengan judul : Guru Dewi Rahayu, S.Pd Menggampar Selvi Rahayu Murid Kelas II SD. Heboh, akhirnya masalah ini masuk ke Pengadilan Negeri setempat dan Guru divonis bersalah dengan pidana penjara 1 tahun 8 bulan. Ribuan guru protes sebagai wujud esprit of the corps membela Guru Dewi Rahayu, S.Pd. Semua guru  dengan perasaan sesak, miris dan pilu di dada meninggalkan kelas, mogok mengajar hari itu dan menggelar aksi demonstrasi.

Entah kebetulan atau tidak, di tempat yang sama dan di waktu yang sama pula, ada rombongan PNS yang sama-sama melakukan aksi demonstrasi. Yang ini lain lagi muasalnya. Seorang rekan mereka, namanya Dewa Gaharu, ST, ketua panitia lelang di sebuah dinas di kota itu, divonis bersalah tak alang kepalang, 6 tahun penjara oleh pengadilan negeri setempat karena, menurut Hakim yang menyidangkan perkara ini, Dewa Gaharu, ST terbukti secara sah dan meyakinkan menerima suap dari  kontraktor. Aliran dana yang mengucur ke kantong sang ketua panitia memang tak sebanding dengan uang yang diterima Mantan Ketua MK DR. Akil Mochtar, SH, MH dari Calon Bupati Murung Raya itu. Tak sebanding pula dengan dana yang diterima mantan anggota DPR RI Anggelina Sondakh. Yang satu ini sebenarnya tergolong pukulan kecil, hanya Rp. 15 juta. Inilah yang menyulut kemarahan sekaligus pemantik simpati PNS  di kota itu menaruh simpati kepada PNS Dewa Gaharu, ST. “Kami tidak siap bekerja bila terancam dipenjara begini. Di luar sana, korupsi milyaran rupiah hanya divonis 2 tahun penjara. Hakim tak punya hati nurani. Ini tak adil. Bebaskan Dewa Gaharu…bebaskan Dewa Gaharu”, teriak koordinator rombongan PNS melalui pengeras suara.
 Semua demonstran, Dokter, Guru dan PNS tumpah ruah pada ruas jalan yang sama dan pada waktu yang sama. Polisi anti huru-hara yang jumlahnya jauh lebih kecil dari jumlah demonstran, kewalahan menenangkan massa dari ketiga rombongan demonstran. Konsentrasi polisi anti huru-hara terpecah. Mereka mulai kebingungan mengamankan para demonstran. Sebab, polisi tidak menyangka akan ada arus demonstrasi dari 3 kelompok yang berbeda di tempat dan waktu yang sama. Ketika polisi mencoba menenangkan  rombongan Dokter, para Guru dan PNS mulai merangsek masuk ke arah balai kota. Lalu polisi mendekati rombongan Guru, kelompok massa Dokter dan PNS terpaksa luput dari penjagaan. Situasinya jadi sangat dilematis bagi polisi. Akhirnya rombongan Dokter, Guru dan PNS saling rebutan ingin lolos dari barikade polisi. Di bawah terik panas matahari siang itu, awalnya tidak jelas siapa yang memulai, tiba-tiba botol bekas minuman air mineral dan batu-batu kecil dilempar ke arah polisi yang sedang berjaga. Keadaan semakin tidak terkendali. Demonstran makin emosi dan polisi juga terus bertahan sekuat tenaga.

Suasana tambah memanas, Dokter, Guru dan PNS tiba-tiba saling lempar. Entah bagaimana hal ini bisa terjadi, mereka saling meneriakkan kata-kata saling ejek, saling lempar dan saling dorong lalu tiba-tiba saling adu jotos. Pada titik ini, tidak jelas lagi siapa mendemo siapa dan tujuan demonstrasi makin tidak terarah. Suasana semakin menjadi-jadi dan sebagian massa telah tersulut emosi mempertahankan kelompok masing-masing.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, namun beberapa dokter, guru dan PNS mengalami luka-luka ringan. Satu orang dari rombongan dokter terluka, pada bagian pinggang  sebelah kanan mengeluarkan darah. Rupa-rupanya sebuah jarum suntik yang terbawa tanpa sengaja di kantong baju dinas sang Dokter tertusuk tak sengaja ke pinggangnya ketika berdesak-desakan dalam kerumunan massa demontran. Sementara dari rombongan Guru ada 2 wanita paruh baya yang pingsan dan dari kelompok PNS ada 3 wanita tua yang pingsan.
Meskipun ada banyak dokter di lokasi, tidak ada dokter yang berinisiatif mengobati dan menolong yag terluka. Semua masih terbawa suasana emosional dan ego masing-masing kelompok demonstran masih terasa kental.  Satu orang dokter yang terluka, terduduk di pinggir jalan memegangi pinggangnya yang terluka, wajahnya kelihatan pucat dan tak berdaya mencabut jarum suntik yang menancap di pinggang kanannya. Baju seragam putihnya berlumuran darah. Sementara dokter-dokter yang lain berlarian melepaskan diri dari kepungan polisi ke  arah balai kota. Sedangkan 2 orang Guru yang pingsan dan 3 orang PNS yang juga pingsan tergeletak tak jauh dari dokter malang itu. Mereka saling tatap letih satu sama lain. Tak ada yang memperdulikan mereka, sementara yang lainnya juga berebutan berlari ke arah balai kota untuk melanjutkan aksi demonstrasi .
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, ternyata gabungan massa dari 3 kelompok itu berhasil sampai di depan kantor DPRD setempat. Namun, mereka kecewa sebab tak ada satu pun pimpinan wakil rakyat maupun anggota dewan yang bersedia keluar menanggapi aspirasi massa. Pada pintu utama kantor DPRD dipampang sebuah tulisan “JANGAN BERISIK, SEDANG RAPAT PARIPURNA” pada kertas karton putih. Lalu rombongan demonstran beralih ke arah Kantor Kepala Daerah yang lokasinya hanya sekitar 300 meter dari kantor DPRD. Kepala Daerah juga tidak berani keluar, menggigil, pucat ketakutan begitu mendapat informasi bahwa massa demonstran yang jumlahnya diperkirakan 2000-an lebih, sudah mulai bertindak anarkis. Mereka nekad melempar batu dan melempar  apapun benda-benda yang dapat dilempar ke arah gedung dimana sang Kepala Daerah berkantor. “Sampaikan kepada massa lewat pengeras suara bahwa saya sedang dinas keluar daerah, segeraaaa”, perintah Kepala Daerah kepada Kepala Satpol PP yang sejak tadi berdiri disampingnya dengan wajah tegang kebingungan.
Suasana makin gawat dan genting. Para demonstran yang tidak lagi terkawal sama sekali oleh aparat keamanan itu begitu leluasa melempari kaca kantor hingga hancur berkeping-keping.
Jarum jam menunjukkan pukul 3 sore. Satu jam sudah lamanya para demonstran menunggu, tidak ada siapapun yang keluar memberikan respon. Wakil rakyat tak satu pun muncul, Kepala Daerah pun tidak jua. Entah bagaimana ceritanya seolah-olah ada yang mengomandoi, dalam sekejap tiba-tiba awan hitam berarak-arakan mengumpul tepat di atas para demonstran, suasana yang tadinya panas sekonyong-konyong menjadi sejuk. Rombongan massa yang sebelumnya  bertindak emosional dan anarkis mulai mereda. Rintik hujan gerimis turun makin menolong menenangkan suasana massa yang tadinya emosional.
Tepat di depan massa demonstran,  7 buah patung manusia berwarna putih dengan kalung kain kotak-kotak kecil paduan warna hitam dan putih di leher, yang dipajang tegak di atas tatakan semen di depan pagar kantor Kepala Daerah,  tersinggung dan meneteskan ari mata sedih serta terharu menyaksikan aksi para demonstran. Ke 7 patung itu pun seolah prihatin merasakan suasana batin para demonstran yang kelihatan mulai lemah dan kelaparan. Air mata ke 7 patung itu mulai menetes. Awalnya air mata bening, lalu perlahan-lahan berubah jadi air mata mirip cairan darah, makin lama makin merah, mengental dan terus mengucur deras.
Mulut ke 7 patung manusia itu mulai komat-kamit, mula-mula perlahan, lama-kelamaan makin cepat, makin keras dan makin jelas. Tiba-tiba satu diantara patung manusia itu yang posturnya paling besar tiba-tiba berteriak menghardik. Sontak suasana kembali mencekam, hening dan semua mata tertuju ke arah pemimpin patung yang berbicara lantang itu.
 “Saudara-saudaraku sekalian, para Dokter, Guru dan PNS,  pulanglah. Tidak ada gunanya mengedepankan ego masing-masing. Sebagai patung, kami pun sudah tak tahan melihat ini semua. Kami komunitas patung di sini sangat tersinggung. Jangan tambahi lagi penderitaan bangsa ini. Cukup..cukup..pulanglah..pulaaaang”, demikian pimpinan patung memberikan nasehat.
Lalu perlahan-lahan rombongan demonstran patuh pada patung dan membubarkan diri dengan tertib. Sementara Dokter, Guru dan PNS pulang dari lokasi demonstrasi, sayub-sayub di sebarang jalan, tepatnya di ruas Jl. Jendral Ahmad Yani, sang Pahlawan Nasional itu, kedengaran suara buruh masih bersemangat menggelar aksi demonstrasi menuntut kenaikan upah bergabung dengan siswa SLTA yang sedang tauran membajak sebuah bus kota. Namun para Dokter, Guru dan PNS tidak menghiraukannya, mereka terlanjur malu kepada pemimpin patung yang telah mengeluarkan air mata darah.
Hari itu, seluruh peserta demonstran Dokter, Guru dan PNS mendapatkan pelajaran penting, bahwa egosentris parsial tidak menghasilkan apa-apa, malah hanya berbuah penderitaan. Malam itu semuanya tertidur pulas, mungkin karena seharian kelelahan, lalu esoknya semua Dokter, Guru dan PNS kembali bekerja dengan semangat dan kesadaran baru : Bangsa ini membutukan Dokter, Guru dan PNS bermental baja dengan semangat pengabdian yang tinggi demi nusa dan bangsa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar