DOKTER, GURU DAN PNS DALAM DEMONSTRASI IMAJINER
Situasinya benar-benar memprihatinkan. Alkisah ada seorang dokter, sebut saja
namanya dr. Hayu Rahayu, divonis
bersalah oleh pengadilan setempat. Sebagai wujud solidaritas kepada rekan seprofesi, lalu dokter
berduyun-duyun mogok kerja meninggalkan pasien di rumah Rumah Sakit. Mereka
sepakat melakukan aksi demonstrasi. Hari itu, semua dokter turun ke jalan,
tanpa terkecuali. Karena tidak ada dokter bedah kandungan yang berjaga di rumah
sakit, 2 orang pasien wanita hamil tua
merintih-rintih kesakitan tak dapat segera dioperasi. Akhirnya pingsan karena
pendarahan hebat. Dua wanita itu dan anak dalam kandungannya meninggal hari itu
juga, dalam selang waktu yang berdekatan. Empat nyawa melayang dalam sehari, pada jam
yang sama di hari yang sama. Keluarga dari kedua wanita hamil yang malang itu, menjerit-jerit
histeris di rumah sakit, satu diantara keluarga pasien kelihatan emosional dan
kecewa berat. Mereka sangat menyesalkan mengapa dokter lebih mementingkan
demonstrasi ketimbang menyelamatkan nyawa manusia.
Salah satu dari keluarga wanita hamil yang
meinggal itu, menghantam meja perawat jaga, tanganya terluka dan berdarah-darah
terkena pecahan kaca. Namun karena masih dalam kondisi emosi tinggi, ia berlari
dengan tangan berdarah-darah ke arah
depan ruangan dokter jaga yang kosong. Terdengar suaranya menggelegar “Mana
dokternya..mana dokternya? Nyawa instri dan anak saya tidak akan hilang jika
dokter memiliki hati nurani” ujar pria itu mulai menangis meraung-raung. Namun
tak ada yang berani menjawab, suasana hening, mencekam, semua staf di Rumah
Sakit itu menunduk, tak ada yang berani mengeluarkan sepatah katapun.
Sementara, ratusan Dokter di kota itu sudah bulat
tekad melalui rapat pada malam sebelumnya. Mereka sepakat memutuskan menggelar
demonstrasi dalam rangka membela korpsnya turun ke jalan serentak. Tempat
pelaksanaan demo sekitar satu kilometer dari Rumah Sakit Umum Daerah dimana
kedua wanita yang meninggal tadi sempat dirawat.
Di tempat demonstrasi para Dokter itu digelar,
tepat di waktu yang sama, ada juga guru yang sedang melakukan aksi demonstrasi.
Pasalnya lain lagi. Ada seorang guru SD namanya Dewi Rahayu, S.Pd divonis bersalah oleh pengadilan negeri setempat karena
menggampar anak didik, nama anak didiknya Selvi Rahayu. Kasus ini sempat
mencuat di koran lokal kota dengan judul : Guru
Dewi Rahayu, S.Pd Menggampar Selvi Rahayu Murid Kelas II SD. Heboh,
akhirnya masalah ini masuk ke Pengadilan Negeri setempat dan Guru divonis
bersalah dengan pidana penjara 1 tahun 8 bulan. Ribuan guru protes sebagai
wujud esprit of the corps membela Guru Dewi
Rahayu, S.Pd. Semua guru dengan
perasaan sesak, miris dan pilu di dada meninggalkan kelas, mogok mengajar hari
itu dan menggelar aksi demonstrasi.
Entah kebetulan atau tidak, di tempat yang sama dan di waktu yang sama pula, ada rombongan PNS yang sama-sama melakukan aksi demonstrasi. Yang ini lain lagi muasalnya. Seorang rekan mereka, namanya Dewa Gaharu, ST, ketua panitia lelang di sebuah dinas di kota itu, divonis bersalah tak alang kepalang, 6 tahun penjara oleh pengadilan negeri setempat karena, menurut Hakim yang menyidangkan perkara ini, Dewa Gaharu, ST terbukti secara sah dan meyakinkan menerima suap dari kontraktor. Aliran dana yang mengucur ke kantong sang ketua panitia memang tak sebanding dengan uang yang diterima Mantan Ketua MK DR. Akil Mochtar, SH, MH dari Calon Bupati Murung Raya itu. Tak sebanding pula dengan dana yang diterima mantan anggota DPR RI Anggelina Sondakh. Yang satu ini sebenarnya tergolong pukulan kecil, hanya Rp. 15 juta. Inilah yang menyulut kemarahan sekaligus pemantik simpati PNS di kota itu menaruh simpati kepada PNS Dewa Gaharu, ST. “Kami tidak siap bekerja bila terancam dipenjara begini. Di luar sana, korupsi milyaran rupiah hanya divonis 2 tahun penjara. Hakim tak punya hati nurani. Ini tak adil. Bebaskan Dewa Gaharu…bebaskan Dewa Gaharu”, teriak koordinator rombongan PNS melalui pengeras suara.
Entah kebetulan atau tidak, di tempat yang sama dan di waktu yang sama pula, ada rombongan PNS yang sama-sama melakukan aksi demonstrasi. Yang ini lain lagi muasalnya. Seorang rekan mereka, namanya Dewa Gaharu, ST, ketua panitia lelang di sebuah dinas di kota itu, divonis bersalah tak alang kepalang, 6 tahun penjara oleh pengadilan negeri setempat karena, menurut Hakim yang menyidangkan perkara ini, Dewa Gaharu, ST terbukti secara sah dan meyakinkan menerima suap dari kontraktor. Aliran dana yang mengucur ke kantong sang ketua panitia memang tak sebanding dengan uang yang diterima Mantan Ketua MK DR. Akil Mochtar, SH, MH dari Calon Bupati Murung Raya itu. Tak sebanding pula dengan dana yang diterima mantan anggota DPR RI Anggelina Sondakh. Yang satu ini sebenarnya tergolong pukulan kecil, hanya Rp. 15 juta. Inilah yang menyulut kemarahan sekaligus pemantik simpati PNS di kota itu menaruh simpati kepada PNS Dewa Gaharu, ST. “Kami tidak siap bekerja bila terancam dipenjara begini. Di luar sana, korupsi milyaran rupiah hanya divonis 2 tahun penjara. Hakim tak punya hati nurani. Ini tak adil. Bebaskan Dewa Gaharu…bebaskan Dewa Gaharu”, teriak koordinator rombongan PNS melalui pengeras suara.
Semua demonstran,
Dokter, Guru dan PNS tumpah ruah pada ruas jalan yang sama dan pada waktu yang
sama. Polisi anti huru-hara yang jumlahnya jauh lebih kecil dari jumlah
demonstran, kewalahan menenangkan massa dari ketiga rombongan demonstran.
Konsentrasi polisi anti huru-hara terpecah. Mereka mulai kebingungan
mengamankan para demonstran. Sebab, polisi tidak menyangka akan ada arus demonstrasi
dari 3 kelompok yang berbeda di tempat dan waktu yang sama. Ketika polisi
mencoba menenangkan rombongan Dokter,
para Guru dan PNS mulai merangsek masuk ke arah balai kota. Lalu polisi
mendekati rombongan Guru, kelompok massa Dokter dan PNS terpaksa luput dari
penjagaan. Situasinya jadi sangat dilematis bagi polisi. Akhirnya rombongan Dokter,
Guru dan PNS saling rebutan ingin lolos dari barikade polisi. Di bawah terik
panas matahari siang itu, awalnya tidak jelas siapa yang memulai, tiba-tiba
botol bekas minuman air mineral dan batu-batu kecil dilempar ke arah polisi
yang sedang berjaga. Keadaan semakin tidak terkendali. Demonstran makin emosi
dan polisi juga terus bertahan sekuat tenaga.
Suasana tambah memanas, Dokter, Guru dan PNS tiba-tiba saling lempar. Entah bagaimana hal ini bisa terjadi, mereka saling meneriakkan kata-kata saling ejek, saling lempar dan saling dorong lalu tiba-tiba saling adu jotos. Pada titik ini, tidak jelas lagi siapa mendemo siapa dan tujuan demonstrasi makin tidak terarah. Suasana semakin menjadi-jadi dan sebagian massa telah tersulut emosi mempertahankan kelompok masing-masing.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, namun beberapa dokter, guru dan PNS mengalami luka-luka ringan. Satu orang dari rombongan dokter terluka, pada bagian pinggang sebelah kanan mengeluarkan darah. Rupa-rupanya sebuah jarum suntik yang terbawa tanpa sengaja di kantong baju dinas sang Dokter tertusuk tak sengaja ke pinggangnya ketika berdesak-desakan dalam kerumunan massa demontran. Sementara dari rombongan Guru ada 2 wanita paruh baya yang pingsan dan dari kelompok PNS ada 3 wanita tua yang pingsan.
Suasana tambah memanas, Dokter, Guru dan PNS tiba-tiba saling lempar. Entah bagaimana hal ini bisa terjadi, mereka saling meneriakkan kata-kata saling ejek, saling lempar dan saling dorong lalu tiba-tiba saling adu jotos. Pada titik ini, tidak jelas lagi siapa mendemo siapa dan tujuan demonstrasi makin tidak terarah. Suasana semakin menjadi-jadi dan sebagian massa telah tersulut emosi mempertahankan kelompok masing-masing.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, namun beberapa dokter, guru dan PNS mengalami luka-luka ringan. Satu orang dari rombongan dokter terluka, pada bagian pinggang sebelah kanan mengeluarkan darah. Rupa-rupanya sebuah jarum suntik yang terbawa tanpa sengaja di kantong baju dinas sang Dokter tertusuk tak sengaja ke pinggangnya ketika berdesak-desakan dalam kerumunan massa demontran. Sementara dari rombongan Guru ada 2 wanita paruh baya yang pingsan dan dari kelompok PNS ada 3 wanita tua yang pingsan.
Meskipun ada banyak dokter di lokasi, tidak ada
dokter yang berinisiatif mengobati dan menolong yag terluka. Semua masih
terbawa suasana emosional dan ego masing-masing kelompok demonstran masih
terasa kental. Satu orang dokter yang
terluka, terduduk di pinggir jalan memegangi pinggangnya yang terluka, wajahnya
kelihatan pucat dan tak berdaya mencabut jarum suntik yang menancap di pinggang
kanannya. Baju seragam putihnya berlumuran darah. Sementara dokter-dokter yang
lain berlarian melepaskan diri dari kepungan polisi ke arah balai kota. Sedangkan 2 orang Guru yang
pingsan dan 3 orang PNS yang juga pingsan tergeletak tak jauh dari dokter
malang itu. Mereka saling tatap letih satu sama lain. Tak ada yang memperdulikan
mereka, sementara yang lainnya juga berebutan berlari ke arah balai kota untuk
melanjutkan aksi demonstrasi .
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 siang,
ternyata gabungan massa dari 3 kelompok itu berhasil sampai di depan kantor
DPRD setempat. Namun, mereka kecewa sebab tak ada satu pun pimpinan wakil
rakyat maupun anggota dewan yang bersedia keluar menanggapi aspirasi massa. Pada
pintu utama kantor DPRD dipampang sebuah tulisan “JANGAN BERISIK, SEDANG RAPAT
PARIPURNA” pada kertas karton putih. Lalu rombongan demonstran beralih ke arah
Kantor Kepala Daerah yang lokasinya hanya sekitar 300 meter dari kantor DPRD.
Kepala Daerah juga tidak berani keluar, menggigil, pucat ketakutan begitu
mendapat informasi bahwa massa demonstran yang jumlahnya diperkirakan 2000-an
lebih, sudah mulai bertindak anarkis. Mereka nekad melempar batu dan
melempar apapun benda-benda yang dapat
dilempar ke arah gedung dimana sang Kepala Daerah berkantor. “Sampaikan kepada
massa lewat pengeras suara bahwa saya sedang dinas keluar daerah, segeraaaa”,
perintah Kepala Daerah kepada Kepala Satpol PP yang sejak tadi berdiri
disampingnya dengan wajah tegang kebingungan.
Suasana makin gawat dan genting. Para demonstran
yang tidak lagi terkawal sama sekali oleh aparat keamanan itu begitu leluasa
melempari kaca kantor hingga hancur berkeping-keping.
Jarum jam menunjukkan pukul 3 sore. Satu jam
sudah lamanya para demonstran menunggu, tidak ada siapapun yang keluar
memberikan respon. Wakil rakyat tak satu pun muncul, Kepala Daerah pun tidak
jua. Entah bagaimana ceritanya seolah-olah ada yang mengomandoi, dalam sekejap tiba-tiba
awan hitam berarak-arakan mengumpul tepat di atas para demonstran, suasana yang
tadinya panas sekonyong-konyong menjadi sejuk. Rombongan massa yang
sebelumnya bertindak emosional dan
anarkis mulai mereda. Rintik hujan gerimis turun makin menolong menenangkan
suasana massa yang tadinya emosional.
Tepat di depan massa demonstran, 7 buah patung manusia berwarna putih dengan
kalung kain kotak-kotak kecil paduan warna hitam dan putih di leher, yang dipajang
tegak di atas tatakan semen di depan pagar kantor Kepala Daerah, tersinggung dan meneteskan ari mata sedih
serta terharu menyaksikan aksi para demonstran. Ke 7 patung itu pun seolah
prihatin merasakan suasana batin para demonstran yang kelihatan mulai lemah dan
kelaparan. Air mata ke 7 patung itu mulai menetes. Awalnya air mata bening,
lalu perlahan-lahan berubah jadi air mata mirip cairan darah, makin lama makin
merah, mengental dan terus mengucur deras.
Mulut ke 7 patung manusia itu mulai komat-kamit,
mula-mula perlahan, lama-kelamaan makin cepat, makin keras dan makin jelas.
Tiba-tiba satu diantara patung manusia itu yang posturnya paling besar
tiba-tiba berteriak menghardik. Sontak suasana kembali mencekam, hening dan
semua mata tertuju ke arah pemimpin patung yang berbicara lantang itu.
“Saudara-saudaraku sekalian, para Dokter, Guru
dan PNS, pulanglah. Tidak ada gunanya
mengedepankan ego masing-masing. Sebagai patung, kami pun sudah tak tahan
melihat ini semua. Kami komunitas patung di sini sangat tersinggung. Jangan
tambahi lagi penderitaan bangsa ini. Cukup..cukup..pulanglah..pulaaaang”,
demikian pimpinan patung memberikan nasehat.
Lalu perlahan-lahan rombongan demonstran patuh
pada patung dan membubarkan diri dengan tertib. Sementara Dokter, Guru dan PNS
pulang dari lokasi demonstrasi, sayub-sayub di sebarang jalan, tepatnya di ruas
Jl. Jendral Ahmad Yani, sang Pahlawan Nasional itu, kedengaran suara buruh
masih bersemangat menggelar aksi demonstrasi menuntut kenaikan upah bergabung
dengan siswa SLTA yang sedang tauran membajak sebuah bus kota. Namun para
Dokter, Guru dan PNS tidak menghiraukannya, mereka terlanjur malu kepada
pemimpin patung yang telah mengeluarkan air mata darah.
Hari itu, seluruh peserta demonstran Dokter,
Guru dan PNS mendapatkan pelajaran penting, bahwa egosentris parsial tidak
menghasilkan apa-apa, malah hanya berbuah penderitaan. Malam itu semuanya
tertidur pulas, mungkin karena seharian kelelahan, lalu esoknya semua Dokter,
Guru dan PNS kembali bekerja dengan semangat dan kesadaran baru : Bangsa ini
membutukan Dokter, Guru dan PNS bermental baja dengan semangat pengabdian yang
tinggi demi nusa dan bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar